MAKNA SYAHADAT 1

Istimewa

A. MAKNA SYAHADAT LAA ILAAHA ILLALLAH


Secara bahasa kalimat ﺍﻻ ﺍﻟﻪ bisa diuraikan secara ringkas sebagai berikut: Laa (ل) adalah nafiyah lil jins (menafikan jenis secara nash) yaitu meniadakan kata benda yang datang setelahnya, misalnya: laa rajula fil bait (tidak ada seorang lelaki pun di dalam rumah). Rajula adalah kata benda untuk jenis lelaki, dalam contoh di atas kata rajula terletak setelah laa nafiyah lil jins, maka maknanya adalah “tidak ada seorang pun dari jenis lelaki berada dalam rumah” Ilah (إﻟﻪ) adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna maf’ul (obyek) yakni bermakna ma’luh artinya ma’bud (yang diibadahi),

sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas terhadap surah Al A’raf: 127:

Berkatalah pembesar-pembesar Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta ilah-ilahmu?”, Fir’aun menjawab:”Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan sesungguhnya kita berkuasa penuh atas mereka”. (Al A’raf: 127)

Kata “Alaihataka” (ilah-ilahmu) pada ayat di atas yaitu ibadah kepadamu (karena Fir’aun itu disembah dan tidak mau menyembah). Lihat:Tafsir Ibnu Jarir Illa artinya kecuali. Pengecualian di sini adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang dinafikan oleh laa. Artinya bahwa hanya lafadz jalaalah “Allah” yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang telah dinafikan oleh kata laa. Allah yang asalnya Al-llah dibuang hamzahnya kemudian lam yang pertama di idhgamkan pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang di-tasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal.

Kata Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin 1/18: “Nama “Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah), ma’bud (yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan, pengagungan dan ketundukan……”. Lafadz jalalah “Allah” adalah nama yang khusus untuk Allah saja, adapun seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lainnya kembali kepada lafadz jalalah tersebut. Karena itu tidak ada satupun dari makhlukNya yang bernama Allah.

Kemudian Laa ini masuk ke dalam mubtada’ dan khobar, yaitu masuk pada jumlah ismiah, mubtada’ menjadi isim laa dan khobar mubtada’ menjadi khobarnya, sedangkan pada kalimat Laa Ilaaha Illallah yang ada hanya mubtada’nya saja yaitu Ilah yang asalnya Al-llah kemudian dibuang Al-nya karena seringnya dipakai sementara khobarnya ternyata tidak ada, maka berarti khobarnya (dibuang) maka kita perlu mencari khobarnya untuk memahami maknanya dengan benar.

Maka para ulama salaf berpendapat bahwa yang dibuang adalah haqqun dengan dalil firman Allah Ta’ala:

Artinya : Yang demikian itu karena Allahlah yang haq dan apa saja yang mereka sembah selain Allah adalah batil dan Allah Maha Tinggi dan Maha Besar” (QS. Luqman: 30).

Sedangkan lafadz jalalah (Allah) hanya badal dari ilah bukan khobar laa.

Maka dari penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna Laa Ilaaha Illallah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (tidak ada sesembahan yang haq selain Allah)

Beberapa penafsiran batil dari Laa Ilaaha Illallah:

  1. “ Tidak ada sesembahan kecuali Allah”. Ini adalah batil, karena maknanya: sesungguhnya setiap yang disembah, -baik yang benar maupun yang batil- itu adalah Allah.
  2. “ Tidak ada pencipta selain Allah”. Secara sepintas maknanya benar. Sebab makna ilah adalah yang diibadahi. Sedangkan makna ini hanya mengakui tauhid Rububiyah Allah saja, dan itu belum cukup.
  3. ” Tidak ada yang ada kecuali Allah”. Batil karena; ilah diartikan yang ada dan makna ini menunjukkan bahwa semua yang ada adalah Allah. Ini adalah kebatilan yang yang paling batil, lebih kafir dari Yahudi dan Nashara sebab Tuhan mereka hanya dua atau tiga, sementara orang-orang yang mengartikan ini mempunyai Tuhan lebih banyak dan tidak terbatas.

Dan lain-lain (lihat Kitab Tauhid karya Syeikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan jilid I Bab III dan Majalah An-Nashihah edisi I th.1/2001 M Rubrik Aqidah hal.19-26 (Makna Laa Ilaaha Illallah oleh Ust. Luqman Jamal )

B. MAKNA SYAHADAT “ANNA MUHAMMADARRASULULLAH”

Yaitu mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekwensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

Iklan

Sya’ir 01

Senin, 27 Juli 2005

Karya : Sang Pujangga Mawar (SPM)

Raja Burung Elang

&

Setangkai Mawar Merah

Tebaran kosmik di angkasa raya

Berderet gugusan bintang di langit

Keindahan tercipta

Gelang Bimasakti di jagat hitam

Bintang terbakar yang bersinar

Berevolusi dalam lingkaran roda cakram

Disana setangkai mawar

Terlihat di cakrawala

Tampak tatapan mata Elang

yang tak menolehkan pandangan

Tertuju mangsa

Dalam memori sasaran

Setangkai mawar merah

Dalam kotak

Berlapis dinding perisai

Hanya kebeningan yang terlihat

Kepakan sayapnya

Mengudara di langit

Mendarat sisi lingkaran roda cakram

Diatas permukaan

Mengitarinya dengan manuver

Kitaran kilat

kecepatan melingkar

Menjulang tinggi,

Naik menembus dimensi

Membuka tabir angkasa

Pedang langit

Hunusan matanya

Tertancap

dalam medium terbakarnya

Bintang bersinar

Tatapan mata elang

Tergambar setangkai mawar

Dia berputar naik melintasi

Kilauan cahaya pedang

Elang berpijar

Api yang membakar

Geraknya kembali berputar

Bagaikan bumerang

Menukik lurus

Melesat cepat

Mangsanya tertuju

Dinding perisai

Dengan tatapan tajam

Yang tertuju pada mangsa

Patukan dalam serangan

Kekuatan  cengkramannya

Menggetarkan perisai

Menembus lapisan dinding

Retak demi keretakan

Pecah demi Pecahan

Bongkahannya terserak

Setangkai mawar merah

Memberi pesan singkat

Menyurut turun

Kelincahan dan kegesitan

Dalam tangkapan Paruh Si Raja Burung

Membawanya melintasi

Mendarat di lintasan roda cakram.

KEBANGKITAN ISLAM DAN RESAKRALISASI ATURAN SOSIAL

” Polisi Malasyia yang menangkap dua warga malasyia dan warga indonesia yang hendak menyelundupkan senjata dari Fhilipina Selatan ke Ambon. ” (koran Tempo, 18 Agustus 2001)

Dalam bulan-bulan belakangan ini terdapat sebuah benang merah berkenaan dengan dinamika vertikal yang terjadi di Indonesia, Malasyia, dan Fhilipina. Secara Umum dinamika vertikal tersebut merupakan relasi antara pemerintah masing-masing negara dengan masyarakatnya, dan lebih spesifik lagi adalah hubungan antara pemerintah dengan fenomena pergerakan Islam ketiga negara tersebut.

Indonesia sebagai negara penduduk muslim terbesar, terbukti tidak kuasa menjadi negeri yang aman dan nyaman untuk didiami oleh umat islam, bahkan, alih-alih terhayati didalam sanubari setiap anggota masyarakat, Islam justru lebih diidentikkan dengan citra momok stabilitas eksistensi indonesia sesuai yang dicita-citakan oleh sebagian Founding Fathers. ironisnya, pemerintah yang notabene beragama islam turut menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap pencitraan tersebut. kemelut di Maluku dan Poso, disamping kasus Talang Sari dan Tanjung Priok, adalah sejumlah bukti gamblang akan gambaran tersebut.

Sementara itu, sejak indonesia bergemilang krisis pada tahun 1997, elit Malasyia yang dalam politik luar negerinya ingin tampil lebih domoinan sebagai pemegang kendali Himpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) terbukti dengan karakternya yang cenderung lebih high profile, justru menunujukkan pergeseran psikopolitik ke arah otoritarian layaknya Indonesia. Ditutupnya ruang-ruang artikulatif  bagi pihak-pihak yang secara faktual kian melek politik kecaman, dan pencekalan terhadap kalangan yang ingin melakukan purifikasi terhadap ajaran Islam, serta kooptasi tehadap hukum dan hak-hak asasi manusia merupakan berita harian yang lebih dari sekedar mengindikasikan proses degradasi, yang tengah berlangsung pada elit Malasyia. dari Melayu muslim kaffah ke arah sekumpulan individu yang klaimnya sebagai melayu Muslim ” hanya sebatas retorika penarik pesona.

Kebangkitan gerakan Islam, termasuk yang dimotori oleh Generasi Muda Muslim Malasyia, padahal, di masa Lalu, penulis mengagumi Malasyia sebagai negara dengan Penduduknyayang lebih bersahabat sekaligus percaya diri untuk mengakui dirinya Muslim, setidaknya jika dibandingkan dengan Indonesia terlebih di era Soeharto.

Gejolak di Fhilipina Selatan pun setali tiga uang. Umat Islam yang banyak bermukim di kawasan tersebut tidak dapat menerima bahwa mereka adalah bagian Fhilipina. Ini merupakan akibat tidak adanya pertalian historis antara bangsa Moro, menjadi korban ketidakadilan pemerintah pusat. Rezim berkuasa silih berganti kehidupan politikpun semakin demokratis namun tidak ada perbaikan kondisi hidup muslim Moro, bahkan pada tingkatan paling minimal sekalipun. Di depan mata, warga nonmuslim yang bermukim di Moro mendapatkan berbagai kemudahan yang diberikan pemerintah. Filipina, mengakibatkan melebarnya jurang ketidakadilan antara dua kelompok negara tersebut, jika dicermati kembali kebangkitan umat Islam di Indonesia. malasyia, dan Fhilipina memiliki kesamaan karakter. Kesemuanya dapat dipandang sebagai sebuah keniscayaan yang muncul sebagai reaksi resistensi terhadap upaya menindas hak-hak umat Islam, bentuk koreksi kritis terhadap pihak pemegang kuasa yang tidak mempu mengemban amanat untuk memimpin bangsa, sekaligus counter attack memimpin bangsa, sekaligus kaum yang ingin melakukan tirani. dengan demikian pergerakan umat Islam sejatinya bukan aktifitas yang sontak datang disiang bolong, melainkan sebuah reaksi terhadap aksi yang terlebih dahulu muncul.

Tetapi, kontras dengan itu, manipulasi realita senantiasa berlangsung, Hasilnya, umat Islam yang distereotipkan sebagai pihak yang anti kemapanan, anti-stabilitas, dan pembangkang. Aksi kekerasan yang muncul juga disimpulkan inisiatif murni kalangan islami. ‘dilupakannya’ tragedi idul fitri berdarah 19 januari 1999 — peristiwa yang memakan ratusan jiwa Islam maluku yang menandai dimulainya konflik maluku, selaras dengan skenario global yang busuk tersebut. selanjutnya, tidak berlebihan manakala Samuel Huntington membangun teori bahwa Islam merupakan salah satu ideologi yang kontra demokrasi. sinyalemen adanya konspirasi antara pejuang Muslim di Indonesia,  Malasyia, dan Fhilipina pun sangat mudah terbentuk, setelah publik menyimak berita seperti pada awal tulisan ini.

Kasus di Indonesia

kendati terdapat kemiringan antara ketiga negara Asia Tenggara tersebut, namun transisi politik nasional di Indonesia. lebih khusus lagi, kunjungan silaturahmi Laskar jihad Ahlissunnah wal Jama’ah (FKASWJ) ke Istana Wakil Presiden menghasilkan bobot politik signifikan bagi perjuangan muslim Maluku dan Laskar Jihad. seperti yang pernah ditegaskan oleh sejumlah pengurusnya kepada penulis, memang tidak bergerak kekancah politik praktis. ladang operasi mereka adalah dimensi kultural, sehingga implikasinya mereka tidak menuntut dan tidak mengenal terminologi-terminologi politik seperti pengakuan formal akan eksistensi mereka. menghindari kawasasan politik formal juga merupakan konsekuensi logis atas distortifnya konstelasi politik nasional. Penalarannya, sebuah gerakan rekonstruksi moral dan akhlak tidak mungkin dilakukan dengan melalui zone politik kekuasaan (low politics) yang justru mengalami dekadensi, di kedua aspek tersebut. ( bandingkan misalnya dengan penolakan Laskar Jihad terhadap kepemimpinan Perempuan (Presiden MEGAWATI SOEKARNOPUTRI) di Tanah Air Indonesia) Penolakan itu tidak ditampilkan dengan dengan, misalnya secara Demonstrasif pembangkangan kolektif, sebaliknya penolakan atas tampilnya Megawati selaku presiden, dilakukan dengan membuka ruang  buka debat publik mengenai tafsiran agama atas kasus ini ). dan, langkah paling strategis guna mengantisipasi keberadaan manuver-manuver low politics itu adalah dengan melakukan terobosan-terobosan di sektor moral dan akhlak (high politics) ; dua unsur yang justru selama ini titik kelemahan utama para pejuang low politics tersebut.

Perjuangan melalui dimensi kultural, seperti yang dilakukan Laskar Jihad, adalah langkah resakralisasi terhadap keteraturan social (social order). Langkah penegakan syari’ah yang mereka lakukan, mengutip paparan Andrew Samuael dalam Political Psyche (1994) merupakan political energy, Political Energy (Moral dan  Akhlaq) telah menguak dari wilayah yang selama ini diidentikkan sebagai sentra-sentra keteraturan : pemerintah, birokrasi, serta institusi penegakan hukum. paralel dengan itu, Laskar Jihad menemukan penguatan karena mereka berhadapan dengan simbol social discorder yang dipresentasikan oleh Front Kedaulatan Maluku selaku pengumandang romantisme subversif Republik Maluku Selatan. dalam spektrum yang lebih luas , fenomena fundamentalisme, agama ini yang menyiratkan gelagak energi potential bagi reformasi publik dan publik hukum di Tanah Air yang kian mendesak.

kembali ke Ihwal kunjugan Laskar Jihad ke Istana Wakil Presiden, Hamzah Haz. Pertemuan kedua pihak tersebut secara Impilisist kepercayaan diri pemerintah untuk mengakui Laskar Jihad yang acap diplesetkan secara sinis menjadi laskar jihad. Sekali lagi, bagi Umat Islam umumnya dan laskar Jihad khususnya, pengakuan ini tidak penting benar, Peristiwa tersebut lebih sebagai lulusnya Pemerintah melewati test care pertama, yakni menjalin keharmonisan segitiga antara Ulama’ , Umara, dan Umat (U3), paling tidak pada tataran wacana. Meomentum politik tercipta lewat silaturahmi tersebut. terlebih karena laskar jihad selaku representasi pejuang sekaligus kaum yang tertindas yang pada masa Abdurrahman Wahid dipandang sebelah mata.

Agenda selanjutnya adalah menjalin keharmonisan pada tataran societal ( kemasyarakatan ) dan kultural. Untuk merealisasikan tujuan ini, tak lain tak bukan, pemerintah pemerintah harus menghayati kondisi psikis umat. Penghayatan itu hanya dapat dibangun manakala pemerintah sangup menunjukkan keikhlasannya untuk menjalin komunikasi intensif dengan umat-umat diarea-area kemelut.

Hamzah Haz, sesuai dengan tugas yang dipikulnya adalah harapan baru. Polarisasi umat yang mungkin terjadi sebagai ‘ekses’ low politics seyogyanya ditinggalkan jauh-jauh. Membela umat, Menyembuhkan luka umat, Mengembalikan harga diri umat, dan memperbaiki harga diri umat, adalah High Politics yang sesungguhnya.

Penutup

Dalam pandangan penulis, langkah menegakkan Imperium Islami, khususnya di Indonesia, Malasyia, dan Fhilipina Selatan, dapat berawal dari Indonesia. keberhasilan umat islam di Indonesia dalam menuntaskan konflik seraya melakukan rekonstrusi moral dan akhlaq, khususnya dimana Islam menjadi budak kedzaliman, niscaya akan menghasilkan leverage yang mengangkat rasa percaya diri umat. Inilah psikologis yang perlu dipelihara bahkan dihembuskan hingga melewati batas-batas negara. melalui cara-cara yang Islami pula, tentunya Wallahu ‘alam.

Reza Indragiri Amriel

Mantan Ketua Delegasi Indonesia, Program Pertukaran Pemuda Indonesia dan Australia

Sumber Buletin Laskar Jihad Ahlussunnah wal Jama’ah Edisi 09 halaman  4-5 , sekitar bulan Agustus 2001

Nasehat kepada setiap Muslim

Asy-Syaikh Al Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه.

————————————————————————————————————————–

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat serta salam bagi Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, keluarga, para sahabatnya dan mereka yang mengikuti petunjuk Beliau.

أما بعد :

فإنه بسبب ما نزل بالإسلام وأهله من نوازل وأحداث مدلهمة وما نزل بهم من ذل وهوان على أيدي أعداء الإسلام إذ تداعوا عليهم كما تداعى الأكلة على قصعتها .

أوجه دعوتي إلى علماء المسلمين والمؤسسات العلمية في كل صقع من أصقاع الدنيا وإلى حكام المسلمين جميعاً أن يتقوا الله في هذه الأمة، وأن يدركوا ما أحدق بها من أخطار بل مما نزل بها من كوارث ومآس فيتحركوا من منطلق الشعور بالمسؤولية أمام الله للخروج بالأمة مما نزل بها من بلاء وويلات وأن يبادروا ببذل كل الأسباب التي تساعدهم على الخروج وعلى رأس ذلك الرجوع إلى دينهم الحق عقيدة وعبادة وأخلاقاً وسياسة ،

————————————————————————————————————————–

Amma ba’du

Sesungguhnya dengan sebab perkara yang menimpa Islam dan kaum muslimin berupa kejadian-kejadian yang suram, kehinaan dan keterpurukan di hadapan musuh-musuh Islam. Nasib kaum muslimin di depan musuh-musuhnya bagaikan santapan di nampan di hadapan para pemangsanya.

Maka kami menyeru kepada para ulama’ kaum muslimin dan lembaga-lembaga ilmiah di tiap-tiap daerah yang ada di penjuru dunia, juga pemerintah kaum muslimin agar semuanya bertaqwa kepada Allah tentang kondisi ummat dewasa ini. Hendaklah mereka mengetahui betapa ummat ini terancam marabahaya, bahkan tertimpa bencana dan malapetaka. Hendaklah mereka tersadar akan tanggung-jawab di hadapan Allah untuk menyelamatkan ummat ini dari bala’ (malapetaka) dan kecelakaan yang menimpa mereka kemudian bersegera mencurahkan daya dan upayanya dengan melaksanakan sebab-sebab yang dapat membantu mereka keluar (dari malapetaka ini). Diantaranya yang terpenting adalah kembali kepada agama mereka yang benar baik di dalam aqidah, ibadah, akhlaq dan siyasah (strategi/politik yang syar’i).

فيضعوا المناهج الصحيحة المستمدة من كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وما كان عليه السلف الصالح لتربية الأجيال عليها في المساجد والمدارس في مختلف مراحلها وفي كل وسائل الإعلام ، واضعين نصب أعينهم قول الرسول الكريم صلى الله عليه وسلم :” كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته”، وواضعين نصب أعينهم قول الرسول الكريم صلى الله عليه وسلم :” إذا تبايعتم بالعينة ورضيتم بالزرع واتبعتم أذناب البقر وتركتم الجهاد في سبيل الله سلط الله عليكم ذلاً لا ينزعه عنكم حتى ترجعوا إلى دينكم“.

————————————————————————————————————————–

Hendaklah mereka berpegang teguh dengan manhaj yang benar yang bersandarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul serta apa yang dipahami oleh salafus shalih di dalam mendidik generasi (ummat ini) di masjid-masjid serta lembaga pendidikan di berbagai jenjang dengan memanfaatkan berbagai sarana informasi yang ada, sambil selalu mengingat

sabda Rasulullah :

كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته

Artinya : “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung-jawaban tentang kepemimpinannya”. (HR Ibnu Majah dari Anas radiyallahu ‘anhu)

Juga sabda Rasul shalallahu alaihi wa sallam:

إذا تبايعتم بالعينة ورضيتم بالزرع واتبعتم أذناب البقر وتركتم الجهاد في سبيل الله سلط الله عليكم ذلاً لا ينزعه عنكم حتى ترجعوا إلى دينكم

Artinya : “Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (sejenis riba, pent), telah larut dalam bercocok tanam, mengikuti ekor-ekor lembu dan meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan atas kalian kehinaan yang tidak akan tercabut kehinaan itu sampai kalian kembali kepada ajaran agama kalian (Islam, pent). (HR Abu Dawud dari Ibnu Umar)”

ولا شك أن الأمة قد وقعت في شر من هذه الأمور حتى آل بهم الأمر إلى هذا الوضع المرير.

وواضعين نصب أعينهم قول الله تعالى:(وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمراً أن تكون لهم الخيرة من أمرهم).

واعلموا أنه لا سبيل لكم أبداً إلى إنقاذ الأمة إلا هذا السبيل وأن اتخاذ سبيلاً غيره لا يزيد الأمة إلا هلاكاً وذلاًً، وأن أعداء الإسلام لا يرضيهم إلا خروج الأمة من دينها (ولن ترضى عنك اليهود ولا النصارى حتى تتبع ملتهم).

————————————————————————————————————————–

Tidak diragukan bahwa ummat ini terjatuh pada keterpurukan di dalam beberapa perkara bahkan terjatuh pada kondisi yang sangat pahit ( termasuk Kaum Muslimin di Indonesia ). Para pemimpin ummat ini (ulama, pemerintah dan lembaga-lembaga ilmiah) agar selalu mengingat firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Ketahuilah bahwa sama sekali tidak ada jalan bagi kalian untuk menyelamatkan ummat ini kecuali dengan cara ini ( kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul dengan pemahaman salafussholih, pent ). Dan apabila mengambil jalan selain ini, maka tidak akan bertambah kepada ummat ini kecuali kebinasaan dan kehinaan. Sungguh musuh-musuh Islam tidaklah rela melainkan ingin agar mereka keluar dari agamanya. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka (Al-baqarah : 120)

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يوفق الأمة حكاماً وعلماء وشعوباً للمبادرة إلى الأخذ بهذه الأسباب النافعة التي لا يقبل ربنا سواها وأن يجمع قلوبهم وكلمتهم على الحق

وبهذه المناسبة أوجه نصحي إلى من وفقهم الله لإتباع منهج السلف الصالح بأن يتقوا الله ويراقبوه في كل الأحوال ظاهراً وباطناً، وأن يخلصوا له في الأقوال والأعمال ، وأن يشمروا عن ساعد الجد في طلب العلم النافع .

————————————————————————————————————————–

Aku memohon kepada Allah yang Maha Mulia Rabb Arsy yang Agung agar memberikan taufik kepada ummat ini baik pemerintah muslim, ulama maupun rakyatnya untuk bersegera Melakukan sebab-sebab yang bermanfaat dimana Allah tidak akan menerima selainnya. Mudah-mudahan Allah menyatukan hati ummat Islam dan kalimat mereka di atas al-haq (kebenaran).

Pada kesempatan ini aku tujukan nasehatku kepada mereka yang diberi taufik oleh Allah -untuk mengikuti manhaj salafus shaleh agar bertaqwa kepada Allah dan memantau diri mereka lahir maupun batin, mengikhlaskan pada Allah baik ucapan maupun perbuatan mereka. Juga bersegera untuk menuntut ilmu yang bermanfaat.

Edyting by :

Abu Isma’il Ibrahim bin Ady Al – Makassary

Fenomena-fenomena dibelakang

Dulu……


Betapa indah dipandang Bunga-bunga di Taman itu, Mekar kelopaknya, bersih kuntumnya, Menjadi hiasan di bumi, Semerbak harumnya yang wangi, Menebarkan aroma di setiap sisi taman, Kumbang-kumbangpun mendekat, Tertarik dan ingin selalu didekatnya sbg penghilang rasa sepi, bersama dengan Rumput-rumput yang hijau dan Pohon-pohon yang rindang nan sejuk

Awan-awan putih di Langit biru, Memuji dan menyanjungnya. Sinar mentari di pagi hari, dan cahaya rembulan di malam hari ,Truuuss.. meneranginya, Sebagai pengusir rasa gundah, bersama dengan langkah waktu yang berjalan.

Sekarang…

Masapun berganti masa, Waktupun kian berlalu, Kebanyakan Bunga-bunga di taman, Telah layu dan kotor,Tak ada yang Mau memandang, Seakan siraman air, Tak membasahinya lagi, Daun-daunpun berguguran, Menguning, jatuh dan Berserakan di rerumputan

Awan Putih tak beri sanjung, Langit biru diam membisu, Mentari yang bersinar, Rembulan yang bercahaya, Bungapun tetap Dalam kegelapan Namun setetes Harapan yang tak sirna, ada sedikit bunga, yang kokoh, mekar merekah, Dan tetap wangi…Sepeti dulu……

( Sekilas fenomena kaum Muslimin dari masa ke masa, dulu mereka tegak diatas Al-Haq, skarang tak ada lagi yang tersisa dari Al-Haq itu dalam dada-dada mereka, melainkan sedikit dari mereka yang tetap tegak diatasnya dan ini adalah Sunnatullah ) By Ibrahim (Abu Isma’il)

QS. Al-Baqarah ayat 213

b%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& Zoy‰Ïnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûï͑ɋYãBur tAt“Rr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4 $tBur y#n=tG÷z$# ÏmŠÏù žwÎ) tûïÏ%©!$# çnqè?ré& .`ÏB ω÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# $JŠøót/ óOßgoY÷t/ ( “y‰ygsù ª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä $yJÏ9 (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù z`ÏB Èd,ysø9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 3 ª!$#ur “ωôgtƒ `tB âä!$t±o„ 4’n<Î) :ÞºuŽÅÀ ?LìÉ)tGó¡•B ÇËÊÌÈ

213.  Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi Keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang Telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, Karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

QS. Ar-Rahman ayat 10-13

uÚö‘F{$#ur $ygyè|Êur ÏQ$tRF|Ï9 ÇÊÉÈ $pkŽÏù ×pygÅ3»sù ã@÷‚¨Z9$#ur ßN#sŒ ÏQ$yJø.F{$# ÇÊÊÈ =ptø:$#ur rèŒ É#óÁyèø9$# ãb$ptø†§9$#ur ÇÊËÈ Äd“r’Î6sù ÏäIw#uä $yJä3În/u‘ Èb$t/Éj‹s3è? ÇÊÌÈ

10.  Dan Allah Telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya). 11.  Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. 12.  Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. 13.  Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

QS. An-Nisa ayat 116

¨bÎ) ©!$# Ÿw ãÏÿøótƒ br& x8uŽô³ç„ ¾ÏmÎ/ ãÏÿøótƒur $tB šcrߊ šÏ9ºsŒ `yJÏ9 âä!$t±o„ 4 `tBur õ8Ύô³ç„ «!$$Î/ ô‰s)sù ¨@|Ê Kx»n=|Ê #´‰‹Ïèt/ ÇÊÊÏÈ

116.  Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.

QS. Al-Anfaal ayat 29

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä bÎ) (#qà)­Gs? ©!$# @yèøgs† öNä3©9 $ZR$s%öèù öÏeÿs3ãƒur öNà6Ztã öNä3Ï?$t«Íh‹y™ öÏÿøótƒur öNä3s9 3 ª!$#ur rèŒ È@ôÒxÿø9$# ÉOŠÏàyèø9$# ÇËÒÈ

29.  Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, kami akan memberikan kepadamu Furqaan (pembeda). dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.

QS. Al-Baqarah ayat 88

(#qä9$s%ur $oYç/qè=è% 7#ù=äî 4 @t/ ãNåks]yè©9 ª!$# öNÏd̍øÿä3Î/ Wx‹Î=s)sù $¨B tbqãZÏB÷sムÇÑÑÈ

88.  Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. tetapi Sebenarnya Allah Telah mengutuk mereka Karena keingkaran mereka; Maka sedikit sekali mereka yang beriman.

QS. An-Nisa ayat 115

`tBur È,Ï%$t±ç„ tAqߙ§9$# .`ÏB ω÷èt/ $tB tû¨üt6s? ã&s! 3“y‰ßgø9$# ôìÎ6­Ftƒur uŽöxî È@‹Î6y™ tûüÏZÏB÷sßJø9$# ¾Ï&Îk!uqçR $tB 4’¯<uqs? ¾Ï&Î#óÁçRur zN¨Yygy_ ( ôNuä!$y™ur #·ŽÅÁtB ÇÊÊÎÈ

115.  Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, kami palingkan dia kemana dia (mau) berpaling dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

QS. Al-An’am ayat 153

¨br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ

153.  Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

QS.  Yusuf ayat 108

ö@è% ¾Ínɋ»yd þ’Í?ŠÎ6y™ (#þqãã÷Šr& ’n<Î) «!$# 4 4’n?tã >ouŽÅÁt/ O$tRr& Ç`tBur ÓÍ_yèt6¨?$# ( z`»ysö6ߙur «!$# !$tBur O$tRr& z`ÏB šúüÏ.Ύô³ßJø9$# ÇÊÉÑÈ

108.  Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

QS. At – Taubah ayat 100

cqà)Î6»¡¡9$#ur tbqä9¨rF{$# z`ÏB tûï̍Éf»ygßJø9$# ͑$|ÁRF{$#ur tûïÏ%©!$#ur Nèdqãèt7¨?$# 9`»|¡ômÎ*Î/ š†Å̧‘ ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊu‘ur çm÷Ztã £‰tãr&ur öNçlm; ;M»¨Zy_ “̍ôfs? $ygtFøtrB ㍻yg÷RF{$# tûïÏ$Î#»yz !$pkŽÏù #Y‰t/r& 4 y7Ï9ºsŒ ã—öqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÉÉÈ

100.  Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

AL – MUJADDID

 

  1. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ yang Allah munculkan setiap penghujung akhir seratus tahun, maksudnya adalah ratusan tahun setelah hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Madinah (ini adalah pendapat As-Subki, dan inilah yang paling tepat)
  2. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ yang paling menonjol tepat di masanya dari sisi keutamaan, sifat-sifat kebaikan, dan yang paling besar pengaruhnya dalam melakukan islah (perbaikan), membangkitkan apa yang telah terkubur, memperlihatkan yang tersembunyi, menerangkan dengan jelas perkara ini di tengah-tengah kehidupan Ummat / Masyarakat Muslim berupa Syari’at Islam (Al-Qur’an dan Sunnah) dan Manhaj Salafush Sholeh.
  3. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ yang hidup di masa-masa merosotnya Ilmu Al-Qur’an dan Sunnah, dan berkembang biaknya Kesyirikan serta Kebid’ahan di tengah – tengah ummat (masyarakat)
  4. Seorang Mujaddid adalah Seorang Ulama’ yang hidup dalam Suasana Zuhud (jauh dari kesenangan dunia) dan Bersikap Waspada setiap saat
  5. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ Ahli Mujtahid atau Mujahidin, atau Keduanya
  6. Seorang Mujaddid adalah Ulama’, yang bila dilihat dari segi tingkat kemampuannya, adalah yang paling cepat menangkap respon luar (mis : keceradasannya, daya ingat & nalarnya kuat), sensitif dan tanggap dalam berbagai hal (apalagi ketika Kesyirikan merajalela, As-Sunnah dinjak-injak, dan Munculnya Azab dimana-mana), dia adalah yang paling tinggi tingkat kemampuannya dalam berakal (merasionalkan sesuatu), dia adalah yang punya pengontrolan pikiran dan hati yang kuat apalagi dalam bersabar, menguasai pengetahuan bermanfaat yang lain diluar ilmu Al-Qur’an dan Sunnah yang digunakan sebagai penyangga dalam  membela As-Sunnah dari para Ilmuwan & Orientalis yang ingin merusak Aqidah dan Syari’at Islam.
  7. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ yang paling banyak dalam mengambil keputusan yang tepat dalam perkara yang membutuhkan ruang untuk berijtihad, dimana hasil keputusannya adalah yang paling kuat pendalilannya (dengan memperhitungkan semua kaidah-kaidah yang benar dan sesuai) dibanding para Ulama’ lain yang sezamannya,  dan terkadang dia bersebrangan dengan para Ulama’ kebanyakan, karena sangat telitinya dia dalam melakukan ijtihad / berfatwa, yang mana hal ini Allah Azza wa Jalla telah memberikannya keutamaan tingkat tinggi yang tidak diberikannya kepada ulama’ lain.
  8. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ yang hidupnya mendapatkan tekanan  paling besar dari pihak luar (musuh-musuh) dalam perjuangannya membela dan memperbaiki Agama Islam ini.
  9. Seorang Mujaddid adalah Ulama’ yang banyak menjadi rujukan bagi para Imam-imam / Ulama sezamannya dan generasi yang setelahnya, apakah dalam masalah Ijtihad atau meneladani kehidupannya dan semangatnya dalam al-Ilmu dan al-Haq.
  10. Seorang Mujaddid adalah sosok Ulama’  yang disepakati oleh Kaum Muslimin (dari kalangan Ulama’ Ahlus Sunnah Wal Jama’ah), sebagai seorang Mujaddid Zaman tersebut, seperti Amirul Mukminin Umar bin ‘Abdul Aziz, yang telah kita sepakati seluruhnya dari kaum muslimin sebagai Mujaddid abad Pertama.

 

Sesungguhnya seorang Mujaddid (Pembaharu) tidaklah membawa sesuatu yang baru atau dibuat-buat, apakah itu menyangkut hal-hal yang Pokok atau Cabang-cabangnya atau Akar-akarnya dalam Syari’at Islam ini, meskipun sedikit, tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang yang mengatakan mereka membawa ajaran baru dalam Agama Islam ini, tuduhan ini tidaklah pantas diarahkan kepada seorang Mujaddid, yang telah banyak berjasa, berjuang dengan kesabaran dan berkorban hanyalah untuk Allah, membela Rasul-Nya, dan  memperbaiki keadaan Kaum Muslimin yang sudah tenggelam dalam lumpur hitam, mengikuti arus-arus jahiliyah yang tak tentu arah menuju melintasi jalan – jalan yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabatnya yakni, Al-Qur’an dan As-Sunnah, apa yang mereka lakukan tidak lain hanyalah mengingatkan apa yang telah kita lupakan, meluruskan apa yang miring (salah paham), atau memperbaiki apa yang rusak,  adapun tuduhan yang telah terlontarkan hanyalah untuk mereka yang telah merusak syari’at islam ini, yang memecah belah barisan kaum muslimin, dan yang telah melakukan kedustaan terhadap Kitabullah & Sunnah dalam bentuk pengkhianatan yang tersembunyi, merekalah yang lebih tepat dan layak.

 

Terakhir, pada dasarnya Mujaddid Adalah Pemimpin diantara para Ulama’ dan Wali Allah, Pemimpin Kaum Muslimin, karena selain besarnya pengorbanan dan beratnya tugas yang diemban, juga mujaddid adalah tingkat tertinggi terakhir (setelah meninggalnya para Sahabat Rasulullah SAW) dalam jajaran para Imam ,Ulama’ dan Penjaga Ummat Islam seluruhnya , kecuali Seorang Khalifah, oleh karena itulah Syaikhul Islam Umar bin Abdul ‘Aziz adalah Mujaddid istimewa yang merangkap Khalifah di masa itu, dibanding para mujaddid setelahnya dalam 14 Abad terakhir.  Bila dalam QS. Fathir ayat 28, difirmankan : bahwa Para Ulama’ adalah yang takut kepada Allah, Maka Seorang Mujaddid tentunya lebih takut lagi karena kedudukannya diatas para Ulama’.

Kesyirikan ibarat Penyakit Jantung di tubuh Kaum Muslimin

 

Risalah Ahli Tauhid

ﺍﻟﺴـﻼﻡ ﻋﻠـﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

إِنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صلى الله عليه، وعلى آله وصحبه وسلم. وبعد

Segala puji hanya bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, mengharapkan petunjuk-Nya dan ampunan-Nya, serta berlindung kepada Allah dari kejahatan hawa nafsu kita dan kejahatan amalan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya, sebaliknya siapapun yang disesatkan Allah, niscaya tidak satupun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Saya bersaksi tidak ada Ilah yang haq kecuali Allah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah seorang hamba dan utusan Allah.

Amma Ba’du

Penyakit Jantung adalah penyakit di negara maju dan negara berkembang. Penyakit ini akan menebar di berbagai belahan dunia, tanpa belas kasihan sama sekali.

Menurut WHO (1990), kematian karena penyakit ini mencapai 12 juta jiwa / tahun , jumlah yang menjadikannya sebagai pembunuh no. 1 di dunia. Penyakit ini sebagian besarnya disebabkan meniru gaya dan pola hidup orang modern, praktis kata Modernisasi. Perkembangan penyakit ini sangat memprihatinkan, sampai – sampai  tidak ada obat khusus untuk menyembuhkannya melainkan hanya menunggu datangnya si Malaikat Maut untuk menjemput kita kepada Allah, Sang Penguasa Cakrawala
Lanjutkan